Selasa, 20 Juli 2010

keluarga besar kembang latar


Keinginan tokoh-tokoh Pemuda dan tokoh-tokoh masyarakat untuk bersatu dalam menyikapi situasi dan kondisi yang sangat meresahkan masyarakat diantaranya adalah konflik horizontal, yang disebabkan sering terjadinya keributan-keributan dan tidak jarang diakhiri dengan perkelahian antar kelompok sehingga menimbulkan korban dikalangan masyarakat.





Melihat fenomena tersebut diatas, maka dibentuklah Paguyuban Kembang Latar Jabodetabek tepatnya pada tanggal 09 September 1991, yang bertujuan untuk mengarahkan kepada kelompok-kelompok ataupun wilayah-wilayah dengan melaksanakan berbagai macam kegiatan positif diantaranya mengadakan pertandingan-pertandingan dalam bidang olahraga, serta mengadakan kegiatan sosial dengan memberikan santunan dan kegiatan sosial lainnya.Dalam bidang kesenian Paguyuban Kembang Latar telah membentuk sanggar seni Betawi. Harapan para pendiri Paguyuban Kembang Latar dengan adanya kegiatan positif yang didukung dengan sportifitas yang tinggi akan dapat menciptakan perdamaian dalam masyarakat

KEMBANG LATAR selaku organisasi kemasyarakatn sampai saat ini telah terbentuk 40 sektor yang beranggotakan 200-500 personil tiap sektor dan juga memilki kader-kader yang berkualitas yang mempunyai peranan penting di Ormas lain seperti : Pemuda Pancasila, AMPI, MKGR, IKB, Pemuda Panca Marga, FKPPI, KOSGORO, GP ANSHOR, BMI, AMPG, Karang Taruna, Remaja Masjid dan Ormas lainnya.



Eksistensi Organisasi untuk menindaklanjuti kehidupan organisasi sesuai dengan cita-cita dan tujuan Paguyuban Kembang Latar seperti yang tertera pada anggaran dasar KEMBANG LATAR pada Bab II Pasal 3 Azas dan Tujuan :

Terwujudnya kembang latar sebagai wadah utama dalam menyatukan gerak, langkah dan memperjuangkan aspirasi anggota dalam menciptakan kedamaian abadi, kehidupan bermasyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Terciptanya kader-kader bangsa yang tangguh dalam rangka mencapai ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945

Berperan aktif dalam seluruh proses pembangunan dengan mewujudkan masyarakat Indonesia yang aman, tentram damai dan adil serta sejahtera.

Sekarang Kembang Latar tidak lagi merupakan paguyuban tetapi telah berubah menjadi organisasi yang kian hari kian berkembang dengan diiringi pembenahan internal organisasi dari semua lini bidang organisasi, dan dilakukannya tertib administrasi sehingga membuat antusiasme masyarakat untuk menjadi anggota atau bagian dari Kembang Latar semakin bertambah.

Saat ini anggota Kembang Latar bukan saja dari kalangan menengah kebawah tapi sudah banyak dari kalangan menengah keatas, dengan dilatarbelakangi dari berbagai macam profesi dan disiplin ilmu seperti ; Dokter, Pengacara, PNS, Pengusaha, Dosen, Consultant, Pensiunan TNI/Polisi, dll.

Pada tahun 2008, Kembang Latar mengusung 4 Calon Legislatif untuk Pemilu 2009 (3 DKI dan 1 Tangerang), dan kami berharap di masa depan Kembang Latar menjadi organisasi yang solid dan dapat diterima dan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Pada setiap kegiatan Kembang Latar, baik itu Acara resmi pelantikkan sektor atau kegiatan yang sudah menjadi agenda Pusat dan sektor selalu mengedepankan acara-acara yang bersifat sosial seperti ; Bakti sosial, Santunan Yatim Piatu & duafa atau juga membantu korban-korban bencana alam seperti membantu korban tsunami di Aceh dan juga Korban Situ Gintung, dengan mendirikan posko Bantuan dan juga memberangkatkan relawan-relawan ke daerah bencana.

Pada tahun 2010 ini, Kembang Latar semakin berkembang dengan banyaknya pembukaan sektor-sektor baru ; baik di DKI, Tangerang dan juga Depok. Mudah-mudahan Kembang Latar tetap menjunjung tinggi Tali silaturahmi dan persaudaraan khususnya sesama anggota Kembang Latar maupun dengan organisasi kemasyarakatan lainnya sesuai dengan motto Kembang Latar ”SERIBU KAWAN MASIH KURANG, SATU MUSUH KEBANYAKAN”.


Anggaran Dasar - BAB IV - Satus, Sifat dan Fungsi

Pasal 5 Status, Kembang Latar adalah Organisasi Kemasyarakatan yang beranggotakan Masyarakat, berada ditengah rakyat, dibesarkan oleh rakyat dan berjuang untuk rakyat.

Pasal 6, Sifat - Kembang Latar bersifat terbuka, independen dan terarah.

Pasal 7, Fungsi -
1. Kembang Latar adalah wadah berhimpun masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kembang Latar berfungsi sebagai Forum Silaturahmi dan penyalur aspirasi masyarakat dalam meningkatkan derajat, taraf hidup status dan kesejahteraan sosial.
Sebagai mesin pencetak kader bangsa yang independen dan berwawasan kebangsaan yang luas untuk menciptakan persatuan dan kesatuan.
Kembang Latar berfungsi sebagai pemersatu dalam meningkatkan kualitas persatuan dan kesatuan guna mempercepat usaha pencapaian tujuan nasional.

keluarga besar FORKABI

Kisahini berawal tepat satu tahun yang lalu, 22 Juni 2007..(Pas ulang tahun Kota Jakarta). Saat itu sekumpulan anak muda di RW 013 dan sekitarnya (yang memeiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap kota dan budaya Jakarta) ngumpul bareng di salah satu rumah kosong di RT 007/013. Tjuannya ga’ laen cuma untuk ngebentuk kepangurusan FORKABI Sub Ranting 013 Gandaria Utara yang udah direncanain sebelumnya. Dari situlah terbentuk satu-satunya ormas yang bercokol di RW 013. Kepilihlah Bang Rachman sebagai ketuanya.

Meski awalnya pembentukan FORKABI di RW 013 banyak yang menentang (maklum saat itu lagi rame-ramenya ormas laen pada tawuran), tetep aja Bang Rachman ame crew-nya kekeuh ngejalanin ormas ini. Ga ada cape-capenya mereka sosialisasiin apa itu FORKABI sambil dikit-dikit ngajak yang laen untuk bergabung. Peluh juga udah bercucuran, namun bagi FORKABI setiap tetes keringat yang mengalir merupakan ibadah yang mudah-mudahan mendapat ganjaran pahala yang setimpal dari Allah SWT…. Amien.

FORKABI SubRan 013 bak mendapat setetes air di padang gersang manakala Bapak Soeroto MK yang juga sebagai Ketua RW 013 memberikan signal yang positif dengan memberi dukungannya sekaligus masuk menjadi Anggota FORKABI(sebelumnya baru satu pejabat doank yaitu Bapak Kurnia Achmad “Ketua RT 002″ yang jadi anggota). Moment ini langsung ditangkep sama Bang Rachman, langsung aja Bapak Soeroto MK diangkat jadi Penasehat FORKABI SubRan 013.

Ga’ terasa satu taun dah berjalan, meski belum dilantik (rencananya dilantik tanggal 19 Juli 2008) tapi FORKABI SubRan 013 dah banyak banget kegiatannya, apalagi yang sifatnya sosial (emang itu tujuannya dibikin FORKABI), dari mulai bareng-bareng sama RT 007 bikin acara Gema Ramadhan, benerin jalanan yang rusak pake biaya sendiri (dibantuin seh dikit-dikit sama yang lewat), keliling bagi-bagiin susu gratisan(meski kaki gempor tapi hati puas), sampe ikut kerja bakti sama RW 013.

Yang ga’ disangka-sangka, taun ini FORKABI SubRan 013 malah diajak gabung untuk jadi Panitia 17-an di RW 013 (jabatannya lumayan oke pula). Ini salah satu bukti bahwa FORKABI sudah bisa diterima oleh sebagian besar warga RW 013 terutama oleh para pejabatnya (yang ga’ dukung ga’ apa-apa sech… tapi jangan ganggu yeee…). yang jelas FORKABI bukan ormas yang kampungan apalagi asal-asalan seperti yang sebagian orang kira. FORKABI punya AD/ART yang bagus kok, punya struktur yang rapi, juga udah terdaftar di lembar negara…. ga’ percaya..? cek aja sendiri… (kok jadi ngelantur seh, maklum saking semangatnya jadi emosi…)

Yang pasti FORKABI bukan untuk anggotanya sendiri, FORKABI bukan untuk golongannya sendiri, FORKABI bukan cuma punya orang Betawi, tapi FORKABI milik kita semua…

Mudah-mudahan dengan momentum 17-an ini FORKABI SubRan 013 bisa lebih membaktikan dirinya untuk kepentingan rakyat banyak, bisa lebih diterima oleh segala golongan dan bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik.. Amien….

keluarga besar Pemuda Pancasila

"PEMUDA PANCASILA"

Sebagai sebuah organisasi, Pemuda Pancasila yang didirikan oleh IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 28 Oktober 1959 juga memiliki sejarah yang penuh warna dan dinamika. Fase pendiriannya di pengujung tahun 50-an ditandai dengan perjuangan politik untuk menyelamatkan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana diamanatkan oleh Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada fase inilah karakter organisasi dan orientasi ideologi Pemuda Pancasila terbentuk. Manifestasi dari karakter organisasi dan orientasi ideologis dimaksud tersermin dari sikap dan komitmennya yang teguh untuk tetap mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara dan perekat ke Bhinnekaan bangsa.

Fase perjuangan Pemuda Pancasila di era 60-an ditandai dengan pergulatan melawan kekuatan PKI dan antek-anteknya yang berupaya mengubah ideologi negara dengan faham komunis dan aktif melakukan politik devide et impera di kalangan elit dan masyarakat akar rumput. Salah seorang pendiri HMI bahkan pernah memberikan kesaksian bahwa pada masa itu (1959-1966) Pemuda Pancasila dikenal sebagai salah satu organisasi yang gigih memerangi PKI dan antek-anteknya. Fase ini bisa dikatakan sebagai era peneguhan karakter Pemuda Pancasila sebagai pengawal ideologi Pancasila. (dikutip dari Buku "Pemuda Pancasila Di Mata Publik")..


Pemuda Pancasila dimasa sekarang

Perjalanan Pemuda Pancasila yang sudah hampir setengah abad ini ternyata banyak mengalami liku-liku, dan itu telah membentuk karakter keras Pemuda Pancasila. Tidak bisa dipungkiri Pemuda Pancasila dimata masyarakat sangatlah tidak seperti namanya yang menyandang nama sakral, Pemuda Pancasila sangat di indentikkan dengan "Pemuda Preman", "Antek-antek Orde Baru" sehingga pada sekarang ini Pemuda Pancasila sangatlah menjadi momok bagi masyarakat, ini diakibatkan oleh tingkah oknum selama ini.

keluarga besar FBR

FORUM BETAWI REMPUG (FBR) SEJABODETABEK

Kebangkitan Bangsa Orang Betawi mulai tampak sejak munculnya organisasi ke”betawi”an yang bernama Forum Betawi Rempug disingkat FBR. Namun belum bisa dirasakan oleh warga inti Jakarta dan masyarakat lainnya yang telah lama hidup berdampingan. Gerak perjuangan FBR berlandaskan kepada keikhlasan, kebersamaan, dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat di sekitarnya yang kebetulan turut tersisih dan ter-marginalkan akibat pembangunan ekonomi yang tanpa kompromi, karena pembangunan tersebut tidak melibatkan kaumnya. FBR melalui program-programnya, berusaha ingin membawa perubahan ke arah yang lebih baik, berdaya guna dan bermartabat, dan kedepannya bisa menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri melalui kompetisi secara profesional dan proporsional, namun banyak kendala yang datang menghadang dari berbagai arah.

Berangkat dari suatu keperihatinan terhadap nasib dan masa depan kaumnya secara struktural dan kultural menjadi terasing dan terpinggirkan di kampung halamannya sendiri. Sebagai kaum yang sadar akan hak, kewajiban, peran serta dan tanggung jawabnya kepada masyarakat, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pada hari Minggu Legi, 8 Rabiul Tsani 1422 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 29 Juli 2001 Masehi, FBR lahir berdiri ditonggaki oleh beberapa agamawan muda Betawi di Pondok Pesantren Yatim ”Zidatul Mubtadi’ien Cakung Jakarta Timur. Semenjak berdiri, keinginan kuat kaum Betawi dan para simpatisan di sekitar Jakarta, bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi untuk bersatu dan care dalam wadah FBR. Walau FBR hanya sebuah organisasi massa lokal namun gerak langkah dan gayanya ”mendunia” karena dunia telah mengakui keberadaannya.

Rempuk dalam kebersamaan dan menjunjung tinggi tali silahturahmi sebagai bentuk karekter khusus organisasi ini, yang berarti akur, musyawarah, kerjasama, gotong royong dan bersatu. Tidak hanya sebatas kata, melainkan dimanifestasikan dan diimplementasikan dalam perbuatan keseharian para anggotanya, sehingga menumbuh kembangkan keikhlasan, kebersamaan dan tanggung jawab dalam memperjuangkan hak-hak dan aspirasi warga kaum betawi. Meskipun ancaman, gangguan, hampatan, dan tantangan, datang dari dalam, melalui penyusupan dari luar, silih berganti, namun FBR tetap tegar serta berdiri tegak untuk selalu berkarya dan berdaya cipta dalam semangat ke-FBR-an (FBR minded).

Sejarah perjalanan dan perjuangan FBR masih membutuhkan banyak waktu dan tenaga terus menerus, sehingga harus dipersiapkan, guna menyongsong arus perubahan yang cepat. Perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, sosial, politik serta ekonomi, membuktikan betapa FBR sudah saatnya menata dan memperbaharui sistem pengelolaan kepemimpinan dengan senantiasa meningkatkan mutu sumber daya manusia anggotanya yang kokoh, handal dan mampu bersaing dalam menghadapi tantangan perubahan di masa sekarang dan mendatang dengan dasar kerempuqkan. Perubahan yang tidak diimbangi dan diiringi oleh kualitas sumber daya manusia yang handal dan manajemen yang baik, akan menimbulkan dampak buruk dalam tubuh organisasi berbasiskan pada tradisi, budaya lokal, agama dan masyarakat, dengan selalu mengedepankan nilai-nilai etika moral yang luhur.

FBR lahir di tengah komunitas sosial masyarakat yang ”heterogen” di Ibu Kota Negara Jakarta, karena seluruh suku bangsa berinteraksi dalam gerak masyarakat yang cepat, oleh karenanya, kemajemukan yang menjadi ciri khas penduduk Jakarta harus menjadi asset utama dalam pembangunan ekonomi dan pembangunan moral. Masyarakat Betawi sebagai warga inti Jakarta memiliki banyak tantangan dalam mengembangkan dirinya di tengah masyarakat yang majemuk, baik di bidang politik, sosial budaya, ekonomi, agama dan lain sebagainya. Sehingga lahirnya FBR diharapkan agar masyarakat Betawi dapat menyalurkan aspirasi, mengaktualisasikan diri dan mengembangkan potensi tanpa harus menyisihkan etnis lain yang kebetulan hidup berdampingan di bumi Betawi.

Dengan menyatukan potensi dalam kebersamaan, FBR berani tampil menjadi fungsi kontrol terhadap ketidak adilan dalam segala aspek kehidupan di tengah masyarakat, berbangsa dan bernegara, baik di bidang politik, hukum, ekonomi dan moral. FBR dengan visi misi dan program-programnya, jelas ingin menjunjung tinggi harkat dan martabat kaumnya di tanah kelahirannya sendiri sebagai tujuan akhir yakni berupa kesejahteraan kedamaian terhadap para anggotanya serta para simpatisan yang peduli ingin memajukan dan membesarkan FBR, dengan semangat nasionalis sejati di Repulik tercinta ini.